Satrio Wibowo: Wujudkan Jakarta Kemandirian Politik, Ekonomi dan Budaya

Satrio Wibowo: Wujudkan Jakarta Kemandirian Politik, Ekonomi dan Budaya

JurnalNusantara.com – Satu lagi pendatang baru, muda dan berprestasi mencoba peruntukannya di dunia politik dengan pertimbangan dan renungan yang matang.Tentu dengan cita-cita besar masuk menjadi anggota DPRD DKI (2019-2024).

Tantangan dan halangan sudah disiapkan dengam strategi yang cepat, tepat dan terukur.Tantang yang besar adalah mengalahkan para incumbent. Adalah Satrio Wibowo mencoba peruntukannya di dapil VII Jakarta (Cilandak,Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Pesanggrahan dan Setiabudi) melalui PDIP dengan program Koperasi Berbasis Digital (KDI).

Alasan Satrio KDI membaktikan dirinya di dunia politik sangat sederhana yakni karena carut marut dan kejenuhan anak muda akan politik terkini.

Tak pelak sebagai anak muda ingin berkontribusi dalam kancah perpolitikan di tanah air. Menjadi pemimpin itu menurut Satrio tidak hanya mempunyai sebuah jabatan tapi perlu memiliki kekuatan mentalitas, kapasitas dan Integritas. Benarkah?

“Banyaknya kasus kasus yang membuat anak muda ini antipati dengan politik di awali anggota DPRD Malang dengan korupsi berjamaah sebanyak 45 orang, ada juga anggota dewan yang terkena kasus narkoba,” ujar Satrio Wibowo Caleg DPRD DKI Dapil VII No Urut 10 kepada sejumlah media termasuk JURNALNUSANTARA.COM, belum lama ini di Jakarta.

Ketika disinggung apa motivasinya menjadi anggota dewan menurutnya karena ingin merubah karakter seorang pemimpin itu lebih melayani karena orientasi berpolitik adalah mensejahterakan masyarakat.

“Semua hal tersebut menjadi kegundahan dalam dirinya, saya sebagai warga negara yang sederhana dalam keseharian memberanikan diri untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan dengan ide dan program-program saya yang murni dan menyentuh hati masyarakat,” urainya.

Meski tidak ada darah politik dan berani keluar dari zona aman dirinya mengaku enjoy menjalan proses yang dialami dengan semangat dan mengalir karena mendapat restu dari istri yang selalu menopang karirnya. Berlatarbelakang profesional tidak menciutkan untuk bertarung di pileg 2019 meskipun tidak mudah berhadapan dengan incumbent.Namun disinilah tantangannya untuk membuktikan kiprahnya.

“Dirinya memberanikan diri mencalonkan dirinya terjun ke dunia politik untuk mengabdikan dan kembali ke masyarakat sebagai bentuk ibadah dalam berpolitik nantinya mendapat kebaikan untuk umat yg lebih banyak,” terangnya.

Kejenuhan dan ekspektasi masyarakat terhadap parpol khususnya anak tambah Satrio akan menjadi bekal khusus untuk menyodok para seniornya memperoleh dukungan kaum milenial dengan program koperasi digital yang lebih bisa diterima dan menyentuh mereka.

“Program-program yang akan saya lakukan dan jalankan harus mengapresiasi suara umat itu sendiri, sehingga sebagai anak-anak muda yang ingin turut berkontribusi sebuah bangsa ini,” imbuhnya.

Dikatakan Satrio masalah klasik bagi para incumbent adalah tidak bisa dapat merawat konstituen nya dengan baik. Sering saya jumpai dilapangan masih banyak keluhan setelah mereka menjadi anggota dewan, mereka tidak lagi sesering sebelumnya berkampanye untuk mengunjungi mereka, tidak ada lagi program-program yang menyentuh atau berkesinambungan, sehingga bagi saya para petahana ini sangat riskan, bahkan saya rasa sangat susah sekali untuk dipilih kembali. Bahkan indikatornya jelas, disaat kita terus mengunjungi masyarakat untuk bertatap muka dengan para anggota dewannya terdapat akses komunikasi yang nyaman ,mereka dapat upprovetible, mereka berbicara dengan anggota dewan ini.

“Jadi parpol saya ini, Parpol ini dapat terus membawa suara rakyat yang memilih anggota dewan tersebut, jadi dipilih parpol yang benar membawa hak-hak rakyat kecil karena sampai saat ini masih terjadi perbedaan yang sangat luar biasa antara rakyat kecil dengan para elit,” tuturnya.

Menurut Satrio KDI (Koperasi Digital In donesiai) perlukan program yang independen diluar dari Partai Politik yang nantinya bisa bersinergi yang sifatnya memberikan nilai komunikasi dan kenyamanan para konstituen saya, tentunya publik yang memilih saya, salah satunya dengan program Koperasi berbasis Digital yang memilih wakil rakyat.
Rakyat perlukan akses dana yang mudah tanpa riba, kita berikan dana program bantuan buat mereka untuk berusaha dimana mereka tidak terbebani modal pokok yang dikembalikan. Jadi konsep gotong royong ini yg ada di Founding Father kita inilah, yang harus kembalikan, akan kita gerakkan, kita tebarkan semangatnya.

“Saya yakin ini dapat membantu mereka yang memilih saya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Satrio mengatakan sebutan KDI bukan tidak ada alasannya.
Jadi Koperasi ini berbasis Digital sehingga anak-anak muda yang ikut rata-rata lebih senior, anak- anak muda biasanya tidak mau ikut Koperasi, makanya saya buat yang berbentuk Digital, sehingga mereka yang bermain dunia Maya. Dengan mudahnya berkonsep secara digital, karena sudah banyak web digital, Video Conference, sehingga koperasi itu ada yang berbentuk system mereka saling bersinergi. Contohnya, ketika membeli garam di Madura yang lebih murah dan terjangkau karena kerjasama antar Koperasi, dan juga beras dari petani sehingga tercapai sebuah market E-Commerce Koperasi direct buyer yang ada di perkotaan atau di lokasinya.

“100 hari pertama adalah program-program di 5 Kecamatan yang saya wakili kawasan Cilandak, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Setiabudi dan Pesanggaran pertama adalah gerakan ekonomi kerakyatan yang menyeluruh ditingkat RW, Koperasi tingkat RW bersinergi dengan Tingkat RW yang lain. Kedua adalah program bantuan dana yang berbasis gotong royong yang dimana kita berikan 10 orang jika 1 orang tidak bisa membayar maka yang 9 orang akan menanggung. Koperasi rakyat tidak seperti kredit rakyat yang berbunga namun murni secara syariah tidak memberatkan para peminjam dana tersebut,” urainya.

Dikatakan Satrio ada dapil yang menjadi konsen, di dapil yakni kasus tanah yang ada di kampung kirei, Kebayoran Baru, program kerja untuk Advokasi hukum yang tanahnya terzholimi perjuangkan hak-hak oleh Pemerintah, kita terus memperjuangkan kuasa hukum hak mereka di kampung kirei. Telah banyak caleg kesana telah memberi janji dan terlihat apatis nya, telah lama bertahun-tahun mereka di janjikan. Saya sebagai anggota dewan harus bisa memberikan harapan itu ada, sehingga langkah konkret yang saya lanjutkan. Mereka memberikan surat kuasa untuk maju menangani kasus yang berada di kampung tanah Kirei.

Tak hanya itu dikampung Leuser kampung Pancasila, terlibat diskusi dengan mereka kasusnya sama dengan PDAM pada masa zaman Pak Ahok dulunya tercipta Pak Ahok ingin menggusur Tahun 2016 Kasus mulai di permasalahkan. Diberikan Ekosistem dimana Ekonomi itu mandiri dengan Visi kita Trisakti dengan kemandirian bidang ekonomi ekosistem berbasis digital kerakyatan ini sangat diperlukan masyarakat.

Disinggung grand design setelah duduk di kebon sirih adalah kemandirian, Politik, Ekonomi dan Budaya, saya sangat yakin Ekonomi kuat, Politik Kita kuat dan Budaya DKI Jakarta ini harus di rawat dengan baik. kita bisa lihat Kebudayaan Betawi yang makin lama makin hilang, sehingga Kebudayaan-kebudayaan ini bisa kita bentuk.

“Adanya Kebudayaan Betawi Pencak Silat daerah Lebak Bulus kalau kita olah dengan pendanaan Koperasi kita dapat profit untuk mengolah alat alat keperluan pencak silat sehingga menjadi ciri khas oleh-oleh Betawi,” urainya.

Belum lagi tambah Satrio gerakan anti riba harus terus di digalakkan karena eranya sudah bergeser ke syariah bukan konvensional lagi.

“Perjuangan untuk menjadi anti riba harus dari diri sendiri, karena konsep anti riba masih melekat di dalam ekonomi dunia, melalui sembako murah lah yang saling bergotong royong untuk merubah sistem ekonomi yang anti riba (han)