Satrio Wibowo Jiwa Muda Millenial Yang Memperjuangkan Penggeseran Timbunan Sampah Yang Sudah Berpuluh Tahun

Satrio Wibowo Jiwa Muda Millenial Yang Memperjuangkan Penggeseran Timbunan Sampah Yang Sudah Berpuluh Tahun

Otoritasnews.co.id, Jakarta – Satrio Wibowo yang akrab dipanggil Satrio KDI mendapatkan info tentang timbunan sampah yang sudah berpuluh tahun setinggi 4 meter langsung dari warga Kel. Menteng Atas Kec. Setiabudi Jakarta Selatan.

Satrio KDI terjun langsung untuk mencari validitas informasi tersebut. Langkah pertama yang dilakukan Satrio akan ke RT ataupun RW setempat untuk menanyakan tindak lanjut hal ini dan dilanjutkan ke tingkat kelurahan menanyakan solusinya untuk mengangkat timbunan sampah ini. Saat ditemui awak media di wilayah Menteng Atas Kec. Setiabudi, Rabu (20/3/2019).

Adapun mereka sebenarnya sudah pernah mencoba namun jawabannya tidak pernah ada tindaklanjutnya hingga sekarang.

Satrio apresiasi dengan Lurah yang mendapat apresiasi bagus dari warga disini karena terus membantu warganya.

Satrio ingin bertemu dengan bapak Lurah Zulkarnain sehingga beliau mempunyai visi dengan saya, Saya yakin yang namanya sampah harus kita bereskan. Tercetus tadi ada beberapa truk yang katanya idle bisa kesini mengangkat sampah, namun masih belum ada tindak lanjutnya.

Satrio yakin ada solusinya bagaimana kita bisa menggeser timbunan sampah ini segera mungkin dan saya harap kita bisa membuat sayembara bagaimana pahlawan-pahlawan sampah diluar sana untuk bergotong royong. Kita buktikan bahwa gotong royong itu masih ada di DKI ini.

Kita buktikan bahwa warga DKI masih berhak hidup dengan kebersihan yang ada. Sampah itu adalah tanggugjawab kita semua.

Menurut histori, mereka mendapatkan sampah ini adalah limpahan dari sampah-sampah warga sekitar yang sengaja dibuang kesini untuk mengintimidasi sehingga mereka merasa tidak nyaman dan terusir dengan sendirinya dari wilayah ini.

Kita tentu sudah sama tahu mereka sudah lama disini lebih dari 20 tahun dan kita akan memperjuangkan hak mereka sebagaimana manusia dan berhubungan sesama kita harus saling membantu termasuk tim media disini. “Semua bergerak, Saya tidak akan tidur dengan tenang sebelum sampah ini digeser, “tegasnya.

Kita akan terus berjuang bersama- sama, kalau perlu kita geser sampah ini ketempat pembuangan sampah sementara.

Saya yakin masih ada orang-orang birokrasi melayani masyarakat yang terketuk hatinya setelah melihat kenyataan seperti ini.

20 tahun timbunan sampah ini adalah waktu yang lama dan dengan sangat sabar sekali mereka tinggal disamping timbunan sampah yang menggunung yang tidak nyaman dalam kesehariannya.

Timbunan sampah yang menggunung ini tidak dilihat pemerintah setempat. Saya rasa ini adalah hal yang mendasar sekali untuk diselesaikan.

Ini benar benar harus dibantu dan menjadi masalah bangsa. Konsep gotong royong harus saya mulai dari pilot project ini. Saya sebagai bapaknya rakyat itu harus tetap jalan keluhan rakyat ini.

Ini adalah sebagai Pilot proyeknya saat merintis sebagaimana amanahnya dan diperjuangkan. Langkah konkritnya tim media didatangkan agar akses donasi saya ini nanti bisa memperbantukan. Kepentibgan warga disini itu diketahui dan ingin memperjuangkan masyarakat disini. Ini adalah sebagai amanah dan akan saya perjuangkan.

Apapun asal usulnya akan kita bantu, warga sekitar berkomitmen akan membuat lapangan footsal dan juga banyak membantu program bilpin, bisa jadi tempat senam juga nantinya.

Di waktu berbeda Miyasih Hotang wakil Bilpin (Bilik Pintar Indonesia) akrab dengan panggilan Mia mengungkapkan, Kehadiran mas Satrio hadir disini responnya sangat bagus untuk sampah sebagai prioritasnya. Ucapan terimakasih sebagai bentuk apresiasi dengan idenya terjun langsung mau bekerja keras, mau membantu warga Menteng Pulo yang ada diatas kuburan China ini.

“Langkah lain yang konkrit adalah pendidikan untuk anak-anak yang utama. Pendidiikan adalah kesejahteraan rakyat yang harus di junjung tinggi. Yang dirasakan disini saya sampaikan kepada mas Satrio kalau terpilih agar mencentil aparatur sipil negara (ASN) yang kerjanya kurang bagus,” ucapnya.

Mia merasakan ketidak adilan dalam birokrasi. Apa yang dilakukannya dalam memperjuang kan haknya sangat didukung oleh warga yang tinggal diwilayah itu.

Keinginan Mia secara pribadi dengan kehadiran Satrio ini setelah menjabat nanti agar tidak silau dengan apa yang nanti nampak dan tidak lupa dengan visi misinya.

“Mas Satrio mempunyai kharisma tersendiri dan komitmen dengan ucapannya. Dan saya tidak bisa memberikan apa apa, hanya doa yang bisa saya berikan agar terpilih atas kinerjanya yang baik,” tutup Mia.

Wati Asmona, Ketua Warga, mengatakan, Warga Kel. Menteng Atas Kec. Setiabudi terdapat 125 KK dengan berKTP DKI 89 KK selebihnya KTP daerah.

Mayoritas di area tersebut dalam kesehariannya 80% sebagai pamulung, 10 % sebagai tukang sayur dan 10% sebagai tukang ojek dan sopir taksi.

“Mas Satrio Wibowo mewakili suaranya rakyat untuk rakyat Indonesia harus riil seperti ini turun kebawah. Seperti anak anak putus sekolah, yatim dan dhuafa,” ucap Wati.(Guffe)