Satrio Dan Warga Murni Berjuang Dan Kerja Ikhlas Demi Kampung Kirai

Satrio Dan Warga Murni Berjuang Dan Kerja Ikhlas Demi Kampung Kirai

Makroindonesia,Jakarta. Dalam kunjungam silahturahmi kepada warga Satrio Wibowo politisi muda dari PDIPerjuangan yang peduli kepada warga yang tertindas didampingi pembina Forum Komunikasi Warga Bersatu (FKWB) Arief Rachman dan Santoso, dan sejumlah warga tampak serius mendengarkan keluhan warga di RT 11/01. Sesekali tangannya mencatat keluhan warga pada secarik kertas. Kamis pekan lalu.

Dalam kepeduliannya Satrio murni berjuang dan kerja ikhas untuk mendampingi Warga Cipete Utara mendapatkan haknya. Kata Satrio, seharusnya pemerintah daerah Jakarta Selatan dan instansi terkait memprioritaskan hak-hak warganya,” ujar Satrio di Cipete, Jakarta Selatan, 2/4/19.

Kasus yang mendera ratusan Warga Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan untuk mendapatkan Sertifikat Hak Milik atas lahan seluas 5,4 hektar yang telah dihuni sejak 1960 masih terkendala.

Meskipun perjuangan Warga Cipete Utara khususnya yang bermukim di Jalan Kirai, telah sampai pada pengukuran atas lahan oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) Jakarta Selatan melalui Program Terpadu Sertifikasi Paham (PTSL) tidak kunjung ramping.

“kami dari awal memiliki sikap, dukungan kepada warga atas klaim sepihak dari PT Bintang Dharmawangsa Perkasa yang mengaku memiliki SHM 10 dan 11 atas lagan di Cipete Utara ini. Sehingga diharapkan negara/pemerintah hadir untuk membantu warga dalam rangka meningkatkan kesejahteraan serta adanya kepastian hukum,” ujar Satrio

Satrio bertekat akan mencarikan solusi yang terbaik buat warga Cipete Utara. Dalam perjuangannya mendapatkan serifikat yang menjadi hanya. Serta akan mengusut tuntas siapa di balik PT Bintang Dharmawangsa Perkasa yang menjadi penghalang atas penerbitan sertifikat tersebut. Bahkan instansi terkait sekolah enggan bila berhadapan dengan PT Bintang Dharmawangsa Perkasa.

Saya mencatat secara langsung apa saja permasalahan bapak ibu selama ini, bersama penasehat hukum yang adalah abang kandung saya akan berupaya dan mengawal perjuangan warga Cipete Utara.” janji Agus.

Hal serupa diucapkan warga lain, Santoso. Dirinya terancam digusur karena tidak memiliki sertifikat tanah. Pria bersama istri dan tiga anaknya ini mengatakan, dirinya hanya memiliki surat dan surat jual beli tanah yang meruakan warisan orang tuanya

“Padahal saya patuh bayar pajak. Warga lain sudah ada yang dijual tanahnya kepada PT Bintang, tapi nasibmya jadi menderita, nanti kalo rumah saya akan digusur bisa runyam keluarga saya,” pungkas Santoso

(Son/makroindonesia.com)